Oleh Tim Liputan
Seiring meningkatnya kebutuhan pangan nasional, petani mulai mencari cara alternatif untuk meningkatkan hasil panen. Salah satu inovasi yang kini tengah diuji coba adalah penggunaan pupuk berbasis zat pengatur tumbuh (ZPT) alami. Sebuah penelitian lapangan yang dilakukan oleh sekelompok petani dan akademisi di Jawa Tengah menunjukkan bahwa ZPT berbahan alami berpotensi meningkatkan pertumbuhan padi secara signifikan.
Penelitian ini dilakukan oleh Gadis Oktavia Ilrosa, Choirul Anam Alfathoni, dan Baihaqi Dafa Lainufar dari MTs Tarbiyatul Banin Winong, Pati, Jawa Tengah, dengan bimbingan guru Nailin Asfiyah, S.Pd.
Formulasi Pupuk ZPT Alami
Pupuk ZPT ini dibuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti tauge, rebung bambu, akar bambu, daun bambu, dan lidah buaya. Untuk mendukung proses fermentasi, digunakan juga molase atau tetes tebu, air sumur, serta air cucian beras.
Proses pembuatan pupuk ini cukup sederhana. Bahan utama seperti tauge, rebung bambu, dan lidah buaya diblender hingga halus, kemudian dicampurkan ke dalam drum berkapasitas 120 liter. Selanjutnya, air sumur dan air cucian beras dimasukkan, diikuti dengan molase. Campuran ini kemudian diaduk selama lima menit hingga merata sebelum drum ditutup rapat untuk menjalani proses fermentasi selama satu setengah bulan. Selama proses ini, adukan berkala diperlukan guna memastikan fermentasi berjalan dengan baik.
Indikator Fermentasi Sempurna
Setelah satu setengah bulan, fermentasi dianggap sempurna jika ampas bahan telah mengendap di dasar drum, meninggalkan cairan fermentasi di bagian atas. Aroma yang tercium menyerupai tape, sementara warna larutan berubah menjadi coklat muda. Sebelum digunakan, larutan ini perlu diaerasi selama 24 jam untuk memastikan stabilitas mikroorganisme dalam pupuk.
Uji Coba di Lahan Pertanian
Peneliti dan petani setempat mulai melakukan uji coba pupuk ini di beberapa lahan padi di daerah Pati. Pupuk ZPT diaplikasikan dengan cara penyemprotan ke daun dan penyiraman ke area perakaran. Hasil awal menunjukkan bahwa tanaman padi yang mendapatkan aplikasi ZPT alami ini tumbuh lebih cepat dan memiliki batang yang lebih kokoh dibandingkan dengan tanaman kontrol yang tidak diberi pupuk serupa.
"Kami melihat ada perbedaan nyata. Daun lebih hijau, batang lebih tegar, dan akar lebih kuat. Jika ini terus berlanjut, maka potensi peningkatan hasil panen bisa mencapai 15-20 persen," ungkap Sugiono, salah satu petani yang terlibat dalam penelitian ini.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Meski hasil awal menjanjikan, penelitian ini masih membutuhkan uji coba lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya dalam berbagai kondisi lahan. Para peneliti berharap bahwa pupuk ZPT alami ini dapat menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pupuk kimia sintetis yang selama ini mendominasi pasar.
"Kami ingin memastikan bahwa teknologi ini dapat diadopsi secara luas oleh petani tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem," ujar seorang akademisi yang terlibat dalam proyek ini.
Jika penelitian ini terus menunjukkan hasil positif, bukan tidak mungkin pupuk ZPT alami ini akan menjadi alternatif utama bagi petani padi di Indonesia. Selain meningkatkan produktivitas, inovasi ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
