Manuskrip Kalongan Diangkat Siswa MA Tarbiyatul Banin ke Layar Dokumenter

Daun dan Biji
0
BANIN
 – Salsabila Azzahra, siswa Madrasah Aliyah (MA) Tarbiyatul Banin, Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Pati, bersama timnya yang terdiri atas Meutia Ayu Safitri, Mutiara Alfita Sari, dan Fikri Hadi Mahmudan, berhasil membuat film dokumenter tentang Manuskrip Kalongan. Sebuah naskah fiqih-sufistik peninggalan ulama lokal berusia ratusan tahun. Karya ini dinilai sebagai langkah kreatif generasi muda dalam melestarikan warisan kuno di era digital.

“Upaya siswa MA Tarbiyatul Banin mengangkat manuskrip Kalongan ke layar dokumenter dianggap sebagai langkah pelestarian warisan kuno yang cerdas. Manuskrip yang awalnya hanya tersimpan dalam lemari keluarga pewaris kini bertransformasi menjadi produk digital, sekaligus ikon cagar budaya lokal yang bisa diwariskan lintas generasi,” tutur Salsabilla pada (20/08/2025)

Manuskrip Kalongan sendiri merupakan salah satu dari enam naskah kuno yang ada di Desa Pekalongan, selain manuskrip Syathoriyah dan Al-Qur’an tulisan tangan ulama alumnus Baghdad. Meski fisiknya rapuh dan sebagian huruf hilang, isinya masih terbaca jelas. Naskah ini berisi ajaran fiqih dan tasawuf yang mengupas syariat, thariqah, haqiqah, hingga ma’rifah, serta tetap dirawat oleh keluarga pewaris.

“Dari manuskrip ini, saya kira apa yang dilakukan siswa MA Tarbiyatul Banin itu, jelas terlihat bahwa ilmu pada masa lalu bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian,” ujar KH. Ubaidillah Achmad Taman Munji, Dosen UIN Semarang sekaligus peneliti Manuskrip Pesantren saat dihubungi melalui aplikasi perpesanan whatsapp.

Salah satu manuskrip kalongan yang isinya tetap relevan maeskipun naskahnya telah rapuh
Sejarah manuskrip Kalongan juga tak lepas dari perjalanan pendidikan Islam di Desa Pekalongan. Pada 1930, KH. Anwar beserta rombongan mendatangi KH. Ismail Zainal Abidin di desa yang kala itu belum memiliki madrasah maupun masjid. Tak lama kemudian berdirilah Madrasah Far’iyah Matholiul Falah dengan guru-guru dari Kajen, di antaranya KH. Sanadji dan KH. Fahrur Rozi, dibantu guru-guru lokal.

Namun, madrasah tersebut ditutup pemerintah Hindia Belanda karena dianggap sebagai bagian dari gerakan anti-kolonial. Pendidikan Islam kemudian kembali dilakukan di surau-surau. Pada masa pendudukan Jepang, tahun 1943, sekolah dibuka kembali dengan nama Tarbiyatul Banin yang bertahan hingga saat ini.

Melalui film dokumenter karya siswa MA Tarbiyatul Banin, manuskrip Kalongan kini tampil dengan wajah baru. Film ini menyajikan wawancara dengan tokoh masyarakat, akademisi, dan keluarga pewaris, sekaligus memperlihatkan nilai-nilai sufistik yang masih relevan dengan kehidupan modern. “Fiqh itu fleksibel, bisa mengikuti zaman. Dengan dokumenter ini, metode lama seperti ngaji kitab kuning bisa disambungkan dengan cara belajar digital,” ujar Roiyan Roiyyanallillah, Guru PAI MA Tarbiyatul Banin.

Dokumenter tersebut menjadi bukti nyata bahwa generasi muda mampu mengambil peran penting dalam menjaga khazanah keilmuan ulama sekaligus menghadirkannya sebagai produk budaya digital yang dapat diakses lintas generasi. “Bukti bahwa tradisi ulama Pekalongan masih hidup sampai sekarang ada di manuskrip ini. Dan generasi muda berhasil menghadirkannya kembali dalam bentuk modern,” tutur Dhofir Maqosith, Ketua MWC NU Kecamatan Winong.

Sumber: Baca selengkapnya di Manuskrip Kalongan Diangkat Siswa MA Tarbiyatul Banin Ke Layar Dokumenter » Wartaphoto.net: https://wartaphoto.net/2025/08/21/manuskrip-kalongan-diangkat-siswa-ma-tarbiyatul-banin-ke-layar-dokumenter/

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)