Siswa MA Tarbiyatul Banin Pati Filmkan Manuskrip Ulama Kuno

Daun dan Biji
0

BANIN
- Siswa Madrasah Aliyah (MA) Tarbiyatul Banin Salsabila Azzahra bersama timnya membuat terobosan penting dalam bidang sejarah dan ilmu agama.

Salsabila bersama Meutia Ayu Safitri, Mutiara Alfita Sari, dan Fikri hadi Mahmudan mengangkat naskah fiqih-sufistik peninggalan ulama lokal ke dalam film dokumenter.

Naskah yang tercatat dalam Manuskrip Kalongan tersebut, merupakan satu dari enam naskah kuno yang ada di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong.

Salsabila menyebut, karya film yang mengangkat Manuskrip berusia ratusan tahun itu, sebagai langkah kreatif generasi muda untuk melestarikan warisan kuno di era digital.

"Awalnya, kami melihat Manuskrip Kalongan hanya tersimpan di dalam lemari keluarga pewaris. Jadi, kami tergugah untuk mentrasformasi naskah penting itu ke dalam produk digital. Sekaligus menjadikan ikon cagar budaya lokal yang dapat diwariskan kepada lintasgenerasi," ujarnya, Rabu (20/8).

Manuskrip Kalongan merupakan satu dari enam naskah kuno yang ada di Desa Pekalongan, selain Syathoriyah dan Al-Qur’an tulisan tangan ulama alumnus Baghdad.

Kendati secara fisik telah rapuh dan sebagian huruf hilang, isi dari manuskrip masih dapat terbaca jelas.

Naskah tersebut berisi ajaran fiqih dan tasawuf yang mengupas syariat, thariqah, haqiqah, hingga ma’rifah. Sampai saat ini, manuskrip tersimpan rapi dan dirawat oleh keluarga pewaris.

Dosen UIN Walisongo Semarang yang sekaligus peneliti Manuskrip Pesantren KH Ubaidillah Achmad Taman Munji mengemukakan, langkah siswa MA Tarbiyatul Banin memfilmkan manuskrip kuno menunjukkan ilmu masa lalu tidak hanya sebagai pengetahuan.

Tetapi, sekaligus membentuk akhlak dan kepribadian generasi saat ini yang ditunjukkan dengan kontribusi mengangkatnya dalam karya digital seputar naskah kuno tentang ilmu agama itu.

Manuskrip Kalongan tidak terlepas dari perjalanan pendidikan Islam di Desa Pekalongan. Pada 1930, KH Anwar beserta rombongan mendatangi KH Ismail Zainal Abidin di desa yang kala itu belum memiliki madrasah maupun masjid.

Tak lama kemudian berdirilah Madrasah Far’iyah Matholiul Falah dengan guru-guru dari daerah Kajen, Kecamatan Margoyoso, antara lain KH Sanadji dan KH Fahrur Rozi.

Dalam mengelola dan menjalankan madrasah itu, mereka dibantu guru-guru lokal.

Hanya saja, madrasah tersebut ditutup pemerintah Hindia Belanda karena dianggap sebagai bagian dari gerakan anti-kolonial. Pendidikan Islam kemudian kembali dilakukan di surau-surau.

Pada masa pendudukan Jepang (1943), madrasah dibuka kembali dengan nama Tarbiyatul Banin yang bertahan sampai saat ini.

Guru PAI MA Tarbiyatul Banin Roiyan Roiyyanallillah mengatakan, film dokumenter karya siswanya menjadikan sejarah, isi singkat, serta pesan di balik Manuskrip Kalongan lebih mudah disampaikan kepada masyarakat.

Mengingat, film tersebut menyuguhkan wawancara tokoh masyarakat, akademisi, dan keluarga pewaris. Sekaligus memperlihatkan nilai-nilai sufistik yang masih relevan dengan kehidupan modern.

"Fiqih itu fleksibel, bisa mengikuti zaman. Dengan dokumenter ini, metode lama seperti ngaji kitab kuning bisa disambungkan dengan cara belajar digital," kata Roiyan.

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Winong Kiai Dhofir Maqosith mengatakan, film dokumenter karya siswa MA Tarbiyatul Banin menjadi bukti generasi muda mampu mengambil peran penting dalam menjaga khazanah keilmuan ulama.

Mereka juga dinilai berkontribusi besar dalam mentransformasikan karya ulama ke dalam produk budaya digital yang dapat diakses lintas generasi.

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)