Model Pelestarian Cagar Budaya Kantor Kawedanan Jakenan

Daun dan Biji
0

Tulisan ini adalah buah dari kunjungan penulis ke kantor kecamatan Jakenan yang dahulu adalah eks Kantor Kawedanan Jakenan pada Selasa, 17 Juni 2025. Pagi itu penulis didampingi Bapak Muji sasmito selaku guru pembimbing dalam penelitian situs cagar budaya milik masyarakat Jakenan ini. Tepat pukul jam 07.30, kami tiba di gedung peninggalan pada masa kolonial Belanda yang sejak tahun 1995 di gunakan menjadi kantor kecamatan jakenan. Kami disambut oleh Bapak Teguh Suyanto selaku Sekretaris Kecamatan.

Kami melakukan wawancara sekitar 48 menit dengan peralatan rekaman lengkap. Wawancara kami, mengulas tentang eksistensi gedung, keunikannya serta potensi dan tantangan pelestarian gedung Kawedanan Jakenan.
Usai wawancara, penulis berkeliling mengamati kondisi gedung Kawedanan Jakenan, termasuk melakukan pendokumentasian di ruangan yang diyakini ruangan Mbah Eyang Joyo Kusumo.

Berikut ini adalah liputan hasil kunjungan penulis.

Situs cagar budaya kantor kawedanan Jakenan hingga sekarang masih eksis keberadaannya. Eksistensi cagar budaya tersebut tidak lepas dari cara keunikan masyarakat dalam memfungsikan situs cagar budaya tersebut. Terdapat tiga cara masyarakat Jakenan dalam merawat situs kawedanan Jakenan.

Pertama, difungsikannya gedung kawedanan Jakenan untuk kantor layanan kecamatan Jakenan. Dengan cara tersebut, gedung kawedanan tetap terawat dan terjaga. Adapun biaya perawatan dan penjagaan gedung sehari-hari terinkut dengan biaya pemerintah Jakenan.

Kedua, pelestarian kedua, pelestarian gedung kawedanan Jakenan dilakukan dengan cara memfungsikan situs kawedanan Jakenan menjadi sumber belajar sejarah anak-anak di tingkat TK, PAUD dan SD dengan teknik berkunjung di tempat peninggalan kantor kawedanan Jakenan. Langkah ini telah mendorong pihak pemerintah kecamatan Jakenan dalam mengeksplore dan menjaga sejarah serta bangunan kawedanan itu sendiri.



Dan ketiga, pelestarian gedung kawedanan dilakukan dengan cara menggelar ritual malam Jumat Legi oleh masyarakat yang meyakini dapat bertemu dengan Mbah Eyang Joyo Kusumo. Kegiatan ritual diisi dengan lantunan doa dan refleksi bersama tentang nilai-nilai dan karakter kepemimpinan Eyang Joyo Kusumo untuk diturunkan ke generasi berikutnya.

Berdasarkan deskripsi tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pelestarian gedung kawedanan Jakenan dilakukan dengan tiga cara yaitu pelestarian secara administratif, pelestarian dengan cara edukasi dan pelestarian dengan cara mitologi. Berdasarkan tiga cara pelestarian gedung kawedanan Jakenan oleh masyarakat sekitar dimungkinkan mampu menjaga dan melestarikan gedung kawedanan Jakenan. Bahkan langkah unik pelestarian tersebut dapat dikembangkan sedemikian rupa menjadi wisata sejarah dan situs sosial. Walaupun demikian tentang ke depan dalam melestarikan gedung kawedanan Jakenan harus tetap diperhatikan khususnya dalam hal teknik perawatan gedung dengan pendekatan perawatan cagar budaya dan ketersediaan dana.

Penulis adalah Sindy Fitriana Mega Aulia, Siswa SMA N 1 Jakenan Kelas XI F3, Peserta Lomba Cagar Budaya Kabupaten Pati, Jawa Tengah
Tahun 2025

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)